cerita sex terbaru
Tirai Kelabu Kehormatan Afni
“Bagaimana keadaannya…” dokter bertanya kepada suster yang menjaga wanita pingsan itu.
“Masih pingsan dok….Dia mengalami pendarahan….” Suster menjawab.
Pukul delapan pagi menunjukkan tanda-tanda bahwa wanita pingsan itu mulai siuman.
“Aakkkhhhh…….aaddddduhhhhh………….aadduuhhhhhhhh hhhh”
“ddiiiii…..ddiimanna…..aakuu…….” Suara wanita itu masih bergetar.
“Tenang..mbak aman di sini…..Ini adalah rumah sakit…..” Suster menjawab.
“Aaaaaa………..ttiiiiiddaakkkkkkkkkkkkkkkkkkkkk……………… ………….”
“Ttttiidaaakkkkk…..llleeepassssssssssskaannnn…………… .” wanita itu terus menjerit.
“Nama anda adalah Afni ?……” Seorang polwan membuka pembicaraan.
“Anda berprofesi sebagai desainer busana…..? ” Polwan itu melanjutkan pertanyaan.
Kembali wanita itu mengangguk lemah.
“Anda tinggal di kontrakan…..”
Kini wanita itu mengangguk lagi.
“Apakah anda bisa menceritakan kronologis kejadian yang menimpa diri anda?”
“Tetapi kaos itu kan sesuai dengan pesanan…..”
“Warnanya sesuai…..ukurannya juga sesuai…Apalagi……”
Terdengar suara berat laki-laki memprotes ucapan Afni.
“Lantas kenapa kemarin tawaran saya bapak terima…” Afni kini menjawab dengan kesal.
“Lantas neng maunya apa……” Laki-laki itu mulai sewot juga.
“Saya enggak mau tahu pak. Pokoknya pesanan batal dan uang saya kembali…” Afni tetap bersikukuh.
“Ciledug….? Saya tidak ada waktu sekarang” Afni berucap.
“Baiklah kalau begitu. Antarkan saya ke tempat supplier kaos itu” Afni memberikan keputusannya.
“Hei Tigor bilang pada yang laen saya akan ke Ciledug” Laki-laki itu berkata kepada anak buahnya.
“Ayo kita berangkat” Bingsar berkata
“Ayo” Dengan segera Afni menimpali.
Keduanya segera menuju kendaraan masing-masing.
“Tunggu saya di depan pintu keluar parkiran, saya pakai colt diesel” Bingsar berkata lagi.
“Baik, saya pakai mobil xenia warna kuning” Afni menjawab.
“Ayo kita naik ke atas” Bingsar membuyarkan lamunan Afni.
“Ayo cepat kita ke lantai empat sebelum hari gelap”
“Halo kawan kita sudah datang” Bingsar berucap sambil berjalan masuk melewati pintu itu.
“Ayo neng ikut masuk” Bingsar memanggil Afni yang berjalan di belakangnya.
Tidak lama muncullah Afni di depan pintu terbuka ruangan itu.
“Saya Daeng” orang itu memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangan.
“Afni” jawab gadis itu dan tangannyapun terulur menerima jabat tangan Daeng.
Tetapi Afni tetap tidak mau menerima kualitas bahan itu hingga Daeng mulai terlihat kesal.
“Ok kalo begitu tunggu di sini akan saya kembalikan uang anda” Daeng berkata.
“Mmmee mmmeengapa pintunya ditutup pak…..” Suara Afni seperti tersumbat dalam kerongkongan.
Afni sedikit lega mendengarnnya.
“Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi….” Daeng kembali berkata
“Apa itu…” Afni bertanya kepadanya.
Afni yang diperhatikan begitu rupa merasa risih dengan tatapan itu.
“Apa syaratnya pak….” Kembali Afni berkata.
Daeng seketika buyar lamunan joroknya dan sedikit tergagap dia menjawab
“Apa…..bapak jangan kurang ajar ya…” Afni nampak tersinggung dengan perkataan Daeng.
“Baiklah…Darto Cokro kalian tahu apa yang harus dilakukan” Daeng berujar
“Aaapppaaa…aaapaaaa… mmaauuu kkkalaliiiiaannnn ssseeebeennnaarrrrnyaaa??” Suara Afni bergetar.
Dari arah belakang Darto tiba-tiba memeluk Afni. Secara refleks Afni meronta melepaskan diri
“Bbbaaaaajjiiangaaannnn…llllepassssakaaann!!! !!!!”
“Binal juga cewek ini…..” Darto berkata.
“Kalo binal pasti enak goyangannya…….” Tigor menimpali ucapan Darto.
“Tolong pak buka pintunya….Ambil saja uang saya. Biarkan saya pergi” Afni menghiba.
“Tentu kami akan membiarkanmu pergi tetapi dengan syarat itu tadi…” Daeng menjawab permohonan Afni
“Tttttiidaakkkkkkkkkk…….” Afni mulai menjerit setengah menangis.
“Ayolah manis kami akan memberikan kepuasan kepadamu……” Cokro mulai ikut-ikutan bicara.
“Iya ayolah cepetan deh dituntasin……udah gak kuat nih…” orang bertato mawar juga ikut berkata.
“Jjjaangannn…pppaaakkk..jjjjaanngaannnn mmembuattku tttakuttt..” Afni menghiba lagi.
“Tak perlu takut manis….. kau akan puas bersama kami……” Cokro berujar
“Ttiidakkkkk..lllleepasssskaaaannnnnnnnn…”
“Bawa cewek binal itu ke matras” Darto rupanya masih kesal dengan tamparan Afni
“He he he non binal…..kini saya pengen merasakan kebinalan tubuhmu”
Darto berucap yang membuat Afni semakin menjadi ketakutan.
“Ttiidakkkk..jjaaannggannn…tttooloongg lleepaskannn saaya….” Afni menjerit
“Aaaaagghhhh…….ttiiidddakkkkkk…”
“Llleeepasskkaannnn…..bbaaangggssattttttttt…… …..”
“Aaakkhhh…aaadduhhhh…bbbiiiiinnnaaattannnggggggg…. ”
“Ttiidaakkkkk…jjjaaanngannnnnnnnnn…….” Afni kembali menjerit.
“Jjaanngaannnnn………..” Afni berteriak
“Jjjanangannn bbuukaaa cceelllaanaa ssaayaaa……” Afni terdengar menangis histeris.
“Aaaaaaa……jjjaaanggaannnnnnnnnnnnnnnnnnn……” Afni menjerit kuat.
“Tttttiddaakkk….bbaanngggsssaaatttttttttttttt ”
“Dekatin kedua kakinya….” Hanya itu yang Darto katakan.
“Jjaaangaannnn…….bbbbiinnaataangggggggggggg…… ” Afni mengumpat dalam tangisnya.
“Jjjaaangaannnn….bbbaaanggssattttttttttt..kkauuuuu ……..”
“AAAAAAaaaaaa ……….jjjaangaannnnnnnnnnnnnnnnnnn…………………..”
“Tttiddakkkk….jaanngaannnn…..”
“Bbaajjingaaannnnnn….llleeepaaasskannnnnnnnnnnn..! !!!!!!!!!”
“AAAggggggghhhhhhrrrrrrrrrrrrrr……………………..” Afni menjerit.
“Tttttiiiiddaaaakkkk….jjjjjaaannngaannnnnn….. ”
“Jjjaangggannnn……jjjaanngggannnnnn….ppaakkkks aa saayyaaaaaaaaaa….”
“Jjjangannn..llaaakuukkkaannn…jjjaangggannnnnnnnnn ” Afni terus menjerit menghiba.
“Tttttiidddaakkkkkk…aaaakkhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!! !!!!!!!!!!!!!!!!!!”
“Akkkkkhhh…..aaddduuhhhhhh….adduhhhhhhhhhhhhh …”
“Akkkhh……..aakkhhhhhhhhhh…..ssssaaakitttttttttttt…..”
“Hhhheeggghhhhhrrrrhhhmmmmmmmmmmmmmmm………………………………..”
“Huuggkkkhhhhh…hhuuueekkhhhh…….” Afni nampak tersedak.
“Gue pengen coba pantatnya………..”Tiba tiba pria bertato ular berkata.
“Jjjjaaangaannnn…….Jjjaannngaann……………..”
“Sssayyaaaa…..ttiiidakkkk…mmaauuu………….” Afni merintih dan menghiba.
Tetapi pria bertato ular itu dengan seringai nafsu birahinya tetap mendekati Afni.
“Tunggingin cewek binal ini……”
“Jjjaangaannnn…………tttiiddakkkkkkkkkkk….” Afni menjerit.
“Bbbbinnnaaattaanng……llleeepasssskaannnnn!!!! !!” Afni menjerit lagi.
“Bbbiiaaddaabbbbb…..kkkkaaalliiaaannnnn………” Afni memaki.
“AAAAkkkkkkhhhhhhhhh………………………..AAAAAkkkkkhhhhhhhhh hhhhhhh!!!!!”
“AAAaaddduuhhh….AAAdduuuhhhh…..Sssssaakiitttt ……”
“SSSaaaaakkkiitttttttt……” Afni terus menjerit dan melolong.
“AAAdddduuhhhhh……..AAAdduuhhhhhhhh….AAAkkkhhh hhhh”
“AAAdduhhhh..pppeeeriihhhhh…….Akkkkhhhh…”
“Sssaakkitt ssseekkkaaliiii….aaadduuhhhh…ssssakkittt”
“Ayo kita cabut…..kita sudah memberi pelajaran padanya…” Daeng berkata.
Komentar
Posting Komentar